Ada sesuatu yang aneh di Middle East.
Di satu sisi, mereka termasuk region yang paling maju soal digital identity.
UAE punya sistem identitas digital dengan jutaan pengguna aktif. Saudi juga punya sistem sendiri yang terintegrasi dengan layanan publik.
Secara teknologi, mereka sudah siap.
Tapi di sisi lainโฆ
seorang pedagang masih bisa nunggu berhari-hari cuma untuk nerima pembayaran dari negara tetangga.
Bukan lintas benua.
Cuma lintas Gulf.
Coba bayangin ini.
Seorang trader di Dubai kirim barang ke Riyadh.
Dokumen lengkap. Barang jalan. Buyer setuju.
Tapi uangnya?
Butuh waktu.
Padahal secara global, lebih dari 40% transaksi cross-border masih butuh lebih dari 4 hari untuk selesai, dan hampir 20% bisa makan waktu lebih dari 10 hari.
Bahkan di antara negara-negara yang infrastrukturnya sudah maju.
Selama ini kita mikir, kalau pembayaran lambat, berarti teknologinya kurang cepat.
Padahal di banyak kasus, itu bukan masalah utama.
Masalahnya lebih dalam dari itu.
sistem-sistem ini tidak saling percaya
Setiap negara di Gulf punya sistemnya sendiri.
Setiap bank punya standar KYC sendiri.
Setiap regulator punya aturan sendiri.
Dan walaupun semuanya sudah digitalโฆ
๐ mereka tetap tidak bisa โmembacaโ satu sama lain
Akibatnya?
Setiap kali transaksi lintas negara terjadi, yang diulang bukan cuma proses kirim uangnyaโฆ
tapi proses verifikasi identitasnya
Dari awal. Lagi.
Efeknya bukan cuma soal waktu.
Lebih dari 33% SME secara global menyebut keterlambatan pembayaran sebagai hambatan terbesar dalam bisnis cross-border.
Dan itu bukan angka kecil.
Karena di balik angka itu ada:
cash flow yang ketahan
relasi bisnis yang terganggu
peluang yang hilang
UAE mungkin sudah percaya data yang mereka keluarkan.
Tapi belum tentu Saudi percaya.
Saudi mungkin punya sistem yang kuat.
Tapi belum tentu UAE bisa langsung nerima itu.
Akhirnya, yang terjadi:
onboarding ulang
verifikasi ulang
screening ulang
Dan semua itu makan waktu dan biaya.
Menariknya, masalah ini sebenarnya sudah lama disadari.
Bahkan lembaga global seperti Financial Stability Board sudah menetapkan target untuk mempercepat cross-border payments sebelum 2027.
Tapi laporan terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar target itu kemungkinan besar tidak akan tercapai tepat waktu.
Artinya?
๐ dunia sudah tahu masalahnya
๐ tapi belum nemu solusi yang benar-benar jalan
Di titik ini, masalahnya jadi kelihatan jelas.
Ini bukan soal gak punya identitas digital.
Ini soal identitas yang tidak bisa dipakai lintas sistem
Dan di sinilah konsep seperti credential mulai jadi relevan.
Bukan sekadar identitas.
Tapi sesuatu yang bisa:
diverifikasi
dibaca lintas negara
dan dipercaya tanpa harus diulang dari nol
Bayangin kalau satu bisnis di UAE punya credential yang:
menunjukkan status KYC
menjelaskan struktur kepemilikan
dan sudah diverifikasi oleh otoritas terpercaya
Lalu saat dia transaksi dengan Saudiโฆ
data itu tinggal dikirim, dicek, dan langsung diterima.
Tanpa proses ulang.
Tanpa nunggu hari.
Secara konsep, ini sederhana.
Tapi di dunia nyata, ini hampir belum ada standar yang benar-benr jalan.
Dan di sinilah pendekatan seperti
@SignOfficial mulai masuk.
Bukan sebagai alat pembayaran.
Tapi sebagai layer kepercayaan.
Sesuatu yang mencoba menjawab masalah paling mahal di sistem ini:
gimana caranya satu sistem bisa percaya data dari sistem lain?
Tapi di sini juga kita harus jujur.
Karena masalah seperti iniโฆ bukan cuma soal teknologi.
Masalah pertama adalah kesepakatan
Agar credential bisa dipakai lintas negara, semua pihak harus sepakat:
formatnya
standarnya
siapa yang dipercaya untuk menerbitkannya
Dan ini bukan keputusan teknis.
Ini keputusan politik dan regulasi.
Masalah kedua adalah kepentingan
Setiap negara di Gulf punya ambisi digital sendiri.
Mereka ingin kontrol atas data, atas sistem, atas infrastrukturnya.
Jadi walaupun solusi global terdengar menarikโฆ
๐ belum tentu semua pihak mau ikut dalam satu framework yang sama
Masalah ketiga adalah realita di lapangan
Bahkan kalau sistem ini berhasil di level pemerintah dan bank besarโฆ
belum tentu langsung terasa ke pedagang kecil.
Karena sebelum sampai ke mereka:
bank harus integrasi
regulator harus approve
sistem harus stabil
Dan itu butuh waktu.
Satu hal lagi yang sering luput:
biaya compliance global akibat perbedaan regulasi diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun.
Dan lagi-lagi, yang paling terasa dampaknyaโฆ
๐ bukan institusi besar
๐ tapi bisnis kecil di bawahnya
Jadi sekarang pertanyaannya bukan lagi:
โapakah Middle East siap secara teknologi?โ
Karena jawabannya: sebagian besar, sudah.
Pertanyaannya adalah:
apakah mereka siap untuk saling percaya?
Kalau jawabannya iya,maka transaksi lintas Gulf bisa berubah drastis.
Yang sekarang butuh hari, bisa jadi hitungan menit.
Yg sekarang penuh friksi, bisa jadi seamless.
Tapi kalau tidakโฆ
maka semua digital identity itu tetap berdiri sendiri.
Canggih, tapi terpisah.
Maju, tapi tidak terhubung.
Dan pedagang itu?
Dia bakal tetep nunggu.
Bukan karena sistemnya ga ada, tapi karena sistemnya belum bener2 saling percaya.
#signdigitalsovereigninfra $SIGN